AIR MATA DI NISAN IBU
Herman menggosok matanya dan
memandang wajah ayahnya. Kumis putih ayahnya tampak mengkilat. Wajah teduhnya
menyirat tahun-tahun yang berlalu: dalam suka, dalam duka. Cahaya bulan
menerobos sela-sela dedaunan pohon nangka yang hampir tak bergerak.Angin terasa
mati, udara lembap bararoma embun.
“Tengoklah makam ibumu, sudah
lama kau tak menyambanginya,” kata ayah. Suaranya lembut, namun langsung
menggedor kesadaran jiwanya. Tangan ayahnya yang putih keriput menggamit
punggung Herman. Segera aliran hangat terasa terasa menjalari punggungnya. Ada
sebuah makam sederhana di sudut kebun yang dipenuhi pepohonan. Waktu mengalir
diam-diam disekitar makam itu. Luas makam itu sekitar 1.000 meter persegi.
Lahan berbentuk segiempat, hampir bujur
sangkar. Sebuah rumah kecil dengan genteng berwarna coklat berdiri persis di
tengah lahan. Kecil dan sederhana. Aman dalam lingkungan bayang-bayang
pepohonan nangka, mangga, durian, dan petai cina. Pintu dan jendelanya bercat
hijau. Keteduhan memancar dari puluhan tanaman hiyas yang memenuhi setiap sudut
pekarangan dan teras rumah. Di sudut lain , pohon singkong dan pepaya memenuhi
lahan yang tersisa.
Kesanalah mereka menuju. Kemakam
yang terpencil dan tenang dalam kesendiriannya. Cungkupnya tampak sederhana, agar
tersembunyi diantara pokok=pokok perdu. Makam yang tenang dalam lindungan
rumput jepang yang tumbuh rapi. Pada nisan marmer, tertulis rangkaian kata
sederhana didahului kaligrafi aksara arab:
Innalillahi wa Innailaihi Rajiun
Sri Suharti
Lahir :28 Oktober 1928
Wafat:14 April 1979
Segumpal keharuan memenuhi rongga dada Herman.
CEO pada sebuah jaringan perusahaan di Jakarta itu pelan berjongkok. Sudah lama
ia tidak mengunjungi makam ibunya, untuk tenggelam sejenak dalam doa sederhana
agar ALLAH melapangkan kubur sang ibu. Ah diam-diam perasaan bersalah menggoyak
hatinya, seperti belati yang terhujam tepat di dada.
“Usaplah nisan itu Herman,” suara
ayahnya terdengar bergetar. Waktu seolah berhenti, menggagu di udara yang
rapuh. Bahkan tak ada bunyi serangga malam seperti biasanya. Ia menurut
menyentuh makam itu.Basah. Mungkin dari gugusan embun yang menempel dan
terbentuk di nisan.
“Sekarang perhatikan baik-baik
nisan itu” lagi suara ayahnya terdengar membelah malam. Ditingkah redup cahaya
yang berasal dari beranda rumah, Herman menunduk, bersungguh-sungguh
memperhatikan nisan itu. Ah, masih terlalu gelap. Tangannya merogoh saku,
mengeluarkan pemantik api bermerek
Dupont, yang harganya cukup untuk membeli seribu nasi bungkus untuk karyawannya.
Terdengar bunyi pemantik api yang memecah ke heningan. Bayang yang semula
redup, tampak lebih jelas oleh cahaya api kecil yang memancar dari pemantik.
Sekilas tamapak aliran kecil tetes-tetes air pada sisi depan nisan, dekat
torehan nama ibunya. Herman terhenyak diam. Dari mana datangnya hari itu?
“Basahi jari-jarimu dan rasakan
dengan lidahmu,”pinta ayahnya.
Herman menurut. Jari-jarinya yang
basah terhangkat ke mulut. Sebentar kemudian ia mengecap air itu dengan ujung
lidahnya, sekali, dua kali.....
“Apa yang kau rasakan?” tanya
ayahnya.
“Asin, Ayah. Seperti...”
“Seperti apa?”
“Seperti rasa air mata.”
“Ya,Ayah juga berfikir demikian.”
“Maksud ayah?”
“Entah kenapa, Ayah juga yakin
airyang keluar dari nisan ibumu itu adalah air mata. Dan ini bukan untuk
pertama kali.”
Herman tercekat. Langit tampak
murung dan gelap. Ia menatap ayahnya yang mematung di sampingnya. Lelaki tua
berusia tiga perempat abad itu tampak terdiam. Murung dalam kediamannya.
“Mengapa ayah begitu yskin?”
Terdengar lelaki tua itu
menghembuskan nafas, seolah ingin menghempaskan beban berat yang membebani
punggungnya yang tua dan membungkuk.” Ya, bukan untuk pertama kali air mata itu
keluar dari nisan ibumu. Seolah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi.
Selalu begitu.”
Herman terdiam. Bayangan wajah
almarhu ibu mengapung di benaknya. Dimatanya , ibunya adalah wanita dan ibu
terbaik di dunia. Wanita yang memperindah ruhnyadengan cahaya ilahiyah dan ilmu
rabbaniyah, menjaga kesucian lahir dan batin, dan memayungi keluarganya dengan
iman, kasih sayang, dan keikhlasan. Wajahnya selalu bercahaya, seperti danau
yanmg tenang di pagi hari. Tutur katanya
sederhana dan indah, seindah akhlak yang akan diperlihatkan kepada
sesama manusia. Ketika ia wafat, wanita itu meninggal sebuah kamar kesedihan
dihati orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya.
Ayah yakin Ibu tidak wafat. Menurut ayah, ruh
ibu hanya berpindah alam dan bergabung dengan ruh orang-orang suci. Ruh ibu
berubah menjadi cahaya. Dialam barzakh yang terentang antara dunia dan akhirat,
di sana lah ruh ibu sekarang berada, ditemani seorang paling rupawan, paling
harum tubuhnya, paling bagus pakaiannya. Orang itu adalah penjelmaan amal saleh
ibu selama di dunia. Ruh ibu menunggu datangnya hari perjumpaan dengan Tuhan
sambil tetap beribadah. Ruh ibu bahkan masih menyertai perjalanan anak-anaknya
dengan doa.
Ayah menceritakan dan
menghubungkan air mata di nisan ibu dengan berbadai kejadian penting yang
terjadi kemudian. Pernah, cerita Ayah kepada Herman, beberapa hari sebelum
terjadinya peristiwa 13-14 mei 1998, air mata keluar dari nisan ibu. Begitu
juga dengan beberapa peristiwa lainnya yang berujung pada kemalangan dan
kesedihan banyak orang. Termasuk kemalangan dan kesedihan keluarga besar mereka.
Seolah-olah air mata di nisan ibu menjadi peringatan akan datangnya suatu
musibah.
“Sekali ini apa makna air yang
keluar dari nisan ibu, Ayah?” tanya Herman.
Ayah memandang wajah herman. Mata
ayah trelihat begitu tua dan letih. Ayah menggeleng pelan. “Entahlah. Kita baru
bisa tau setelah terjadi.”
Untuk sementara, urusan air mata
di nisan ibu terlupakan oleh kesibukan sehari-hari yang datang menumpuk.
Beberapa hari berlalu tanpa catatan berarti. Seperti daun yang luruh ke tanah.
Namun Herman teringat kembali tentang air mata di nisan ibu itu ketika kabar
buruk itu datang tak lama kemudian. Ini menyangkut Irma adik bungsunya. Irma
bersama Yanto, suaminya berkembang menjadi pedagang besar hasil bumi yang
sukses. Perkebunan milik mereka tersebar di beberapa tempat. Namun, mereka
lebih senang tinggal di kepulauan indah di kepulauan Maluku. Pulau yang
berjarak cukup jauh dari Ambon itu merupakan tempat kesayangan mereka. Mereka
senang tinggal disana, mengelola ratusan hektar perkebunan pala,lada ,cengkeh,
dan kayu putih.. Bukannya mereka tidak tahu konflik berdarah di daerah itu yang
tak kunjung selesai. Namun mereka selalu menepis kemungkinan konflik berdarah
itu akan merambat ke pulau mereka tercinta. Terlalu jauh dari Ambon alasan
meraka.
Sayangnya manusia selalus suka
mengumbar konflik dan kebencian terhadap sesama dengan mengatas namakan tuhan
dan agamanya. Ketika kabar kerusuhan akhirnya melanda pulau itu, Herman dan
saudaranya yang lain hanya bisa cemas dan membasahi bibir mereka dengan berdoa.
Berkali-kali mereka melakukan kontak dengan keluarga adik bungsu mereka itu.
Pemerintah daerah dan pihak keamanan setempat juga beberapa kali dihubungi.
Gatot sang kakak sulung yang mempunyai hubungan dekat dengan elit militer di
Jakarta, juga sudah melakukan kontak untuk mengetahi keadaan keluarga adik
bungsu mereka.
Beberapa hari berlalu. Hanya
kabar perkebunan itu ikutluluh lantak di rusak bentrok masa. Kabar yang datang
ke Jakarta kemudian, ratusan jiwa ikut melayang. Ketika ada titik gterang
Herman langsung meluncur ke Lebak. Ia tidak tahan membayangkan kesendirian
ayahnya di tengah ke tidakpastian kabar anak bungsunya. Dalam keremangan senja
mobil Herman memasuki pekarangan rumah ayahnya. Ayah segera keluar mendengan
suara mobil memasuki halaman. Wajah ayah tampak tenang. Tahun-tahun yang lalu
tampaknya telah menimpa ayah untuk melihat musibah dan keberuntungan sebagai kewajaran
dalam hidup. Semestinya iya sudah tahu kabar apa yang dibawa Herman.
“Dik Irma sudah di temukan ,Yah.”
“Alhamdulillah, bagaimana
suaminya?”
Herman menunduk. Ayahnya
menghampiri. Memeluknya.
“Ayah sudah tahu, Nak Anto masih
belum di temukan.
“Ya, Irma ditemukan berada di
antara para pengungsi. Masih Soch. Mas Gatot sudah berangkat kesana.”
“Mudah-mudahan suaminyapun
selamat, kasihan Irma.
Herman melirik ayahnya, Ayahnya
tampak tegar, seolah hal menyedihkan itu tidak terjadi. Malam itu dilalui
Herman dirumah orang tuanya. Tak banyak percakapan terjalin antara ayah dan
anak. Keduannya lebih banyak terdiam dan berdoa dalam hati.
Dari kebun dan pekarangan, bunyi
serangga malam mulai terdengar. Langit tampak gelap, karena cahaya bintang
terhalang tebalnya awan. Dari balik jendela kamarnya, Herman mengarahkan
pandangannya ke arah nisan sang ibu. Pandangannya terhalang oleh gelapnya
malam. Matanya mulai terasa basah. Ia membatin. Barangkali air mata di nisan
ibu akan selalu ada. Karena kesedihan dan kemalangan susah dihapus dari hidup
seseorang.