Rabu, 30 Oktober 2013

CERITA PENDEK........ MENYEDIHKAN

 AIR MATA DI NISAN IBU
Herman menggosok matanya dan memandang wajah ayahnya. Kumis putih ayahnya tampak mengkilat. Wajah teduhnya menyirat tahun-tahun yang berlalu: dalam suka, dalam duka. Cahaya bulan menerobos sela-sela dedaunan pohon nangka yang hampir tak bergerak.Angin terasa mati, udara lembap bararoma embun.
“Tengoklah makam ibumu, sudah lama kau tak menyambanginya,” kata ayah. Suaranya lembut, namun langsung menggedor kesadaran jiwanya. Tangan ayahnya yang putih keriput menggamit punggung Herman. Segera aliran hangat terasa terasa menjalari punggungnya. Ada sebuah makam sederhana di sudut kebun yang dipenuhi pepohonan. Waktu mengalir diam-diam disekitar makam itu. Luas makam itu sekitar 1.000 meter persegi. Lahan berbentuk segiempat,  hampir bujur sangkar. Sebuah rumah kecil dengan genteng berwarna coklat berdiri persis di tengah lahan. Kecil dan sederhana. Aman dalam lingkungan bayang-bayang pepohonan nangka, mangga, durian, dan petai cina. Pintu dan jendelanya bercat hijau. Keteduhan memancar dari puluhan tanaman hiyas yang memenuhi setiap sudut pekarangan dan teras rumah. Di sudut lain , pohon singkong dan pepaya memenuhi lahan yang tersisa.
Kesanalah mereka menuju. Kemakam yang terpencil dan tenang dalam kesendiriannya. Cungkupnya tampak sederhana, agar tersembunyi diantara pokok=pokok perdu. Makam yang tenang dalam lindungan rumput jepang yang tumbuh rapi. Pada nisan marmer, tertulis rangkaian kata sederhana didahului kaligrafi aksara arab:
Innalillahi wa Innailaihi Rajiun
Sri Suharti
Lahir :28 Oktober 1928
Wafat:14 April 1979

 Segumpal keharuan memenuhi rongga dada Herman. CEO pada sebuah jaringan perusahaan di Jakarta itu pelan berjongkok. Sudah lama ia tidak mengunjungi makam ibunya, untuk tenggelam sejenak dalam doa sederhana agar ALLAH melapangkan kubur sang ibu. Ah diam-diam perasaan bersalah menggoyak hatinya, seperti belati yang terhujam tepat di dada.
“Usaplah nisan itu Herman,” suara ayahnya terdengar bergetar. Waktu seolah berhenti, menggagu di udara yang rapuh. Bahkan tak ada bunyi serangga malam seperti biasanya. Ia menurut menyentuh makam itu.Basah. Mungkin dari gugusan embun yang menempel dan terbentuk di nisan.
“Sekarang perhatikan baik-baik nisan itu” lagi suara ayahnya terdengar membelah malam. Ditingkah redup cahaya yang berasal dari beranda rumah, Herman menunduk, bersungguh-sungguh memperhatikan nisan itu. Ah, masih terlalu gelap. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan  pemantik api bermerek Dupont, yang harganya cukup untuk membeli seribu nasi bungkus untuk karyawannya. Terdengar bunyi pemantik api yang memecah ke heningan. Bayang yang semula redup, tampak lebih jelas oleh cahaya api kecil yang memancar dari pemantik. Sekilas tamapak aliran kecil tetes-tetes air pada sisi depan nisan, dekat torehan nama ibunya. Herman terhenyak diam. Dari mana datangnya hari itu?
“Basahi jari-jarimu dan rasakan dengan lidahmu,”pinta ayahnya.
Herman menurut. Jari-jarinya yang basah terhangkat ke mulut. Sebentar kemudian ia mengecap air itu dengan ujung lidahnya, sekali, dua kali.....
“Apa yang kau rasakan?” tanya ayahnya.
“Asin, Ayah. Seperti...”
“Seperti apa?”
“Seperti rasa air mata.”
“Ya,Ayah juga berfikir demikian.”
“Maksud ayah?”
“Entah kenapa, Ayah juga yakin airyang keluar dari nisan ibumu itu adalah air mata. Dan ini bukan untuk pertama kali.”
Herman tercekat. Langit tampak murung dan gelap. Ia menatap ayahnya yang mematung di sampingnya. Lelaki tua berusia tiga perempat abad itu tampak terdiam. Murung dalam kediamannya.
“Mengapa ayah begitu yskin?”
Terdengar lelaki tua itu menghembuskan nafas, seolah ingin menghempaskan beban berat yang membebani punggungnya yang tua dan membungkuk.” Ya, bukan untuk pertama kali air mata itu keluar dari nisan ibumu. Seolah pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi. Selalu begitu.”
Herman terdiam. Bayangan wajah almarhu ibu mengapung di benaknya. Dimatanya , ibunya adalah wanita dan ibu terbaik di dunia. Wanita yang memperindah ruhnyadengan cahaya ilahiyah dan ilmu rabbaniyah, menjaga kesucian lahir dan batin, dan memayungi keluarganya dengan iman, kasih sayang, dan keikhlasan. Wajahnya selalu bercahaya, seperti danau yanmg tenang di pagi hari. Tutur katanya  sederhana dan indah, seindah akhlak yang akan diperlihatkan kepada sesama manusia. Ketika ia wafat, wanita itu meninggal sebuah kamar kesedihan dihati orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya.
 Ayah yakin Ibu tidak wafat. Menurut ayah, ruh ibu hanya berpindah alam dan bergabung dengan ruh orang-orang suci. Ruh ibu berubah menjadi cahaya. Dialam barzakh yang terentang antara dunia dan akhirat, di sana lah ruh ibu sekarang berada, ditemani seorang paling rupawan, paling harum tubuhnya, paling bagus pakaiannya. Orang itu adalah penjelmaan amal saleh ibu selama di dunia. Ruh ibu menunggu datangnya hari perjumpaan dengan Tuhan sambil tetap beribadah. Ruh ibu bahkan masih menyertai perjalanan anak-anaknya dengan doa.
Ayah menceritakan dan menghubungkan air mata di nisan ibu dengan berbadai kejadian penting yang terjadi kemudian. Pernah, cerita Ayah kepada Herman, beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa 13-14 mei 1998, air mata keluar dari nisan ibu. Begitu juga dengan beberapa peristiwa lainnya yang berujung pada kemalangan dan kesedihan banyak orang. Termasuk kemalangan dan kesedihan keluarga besar mereka. Seolah-olah air mata di nisan ibu menjadi peringatan akan datangnya suatu musibah.
“Sekali ini apa makna air yang keluar dari nisan ibu, Ayah?” tanya Herman.
Ayah memandang wajah herman. Mata ayah trelihat begitu tua dan letih. Ayah menggeleng pelan. “Entahlah. Kita baru bisa tau setelah terjadi.”


Untuk sementara, urusan air mata di nisan ibu terlupakan oleh kesibukan sehari-hari yang datang menumpuk. Beberapa hari berlalu tanpa catatan berarti. Seperti daun yang luruh ke tanah. Namun Herman teringat kembali tentang air mata di nisan ibu itu ketika kabar buruk itu datang tak lama kemudian. Ini menyangkut Irma adik bungsunya. Irma bersama Yanto, suaminya berkembang menjadi pedagang besar hasil bumi yang sukses. Perkebunan milik mereka tersebar di beberapa tempat. Namun, mereka lebih senang tinggal di kepulauan indah di kepulauan Maluku. Pulau yang berjarak cukup jauh dari Ambon itu merupakan tempat kesayangan mereka. Mereka senang tinggal disana, mengelola ratusan hektar perkebunan pala,lada ,cengkeh, dan kayu putih.. Bukannya mereka tidak tahu konflik berdarah di daerah itu yang tak kunjung selesai. Namun mereka selalu menepis kemungkinan konflik berdarah itu akan merambat ke pulau mereka tercinta. Terlalu jauh dari Ambon alasan meraka.
Sayangnya manusia selalus suka mengumbar konflik dan kebencian terhadap sesama dengan mengatas namakan tuhan dan agamanya. Ketika kabar kerusuhan akhirnya melanda pulau itu, Herman dan saudaranya yang lain hanya bisa cemas dan membasahi bibir mereka dengan berdoa. Berkali-kali mereka melakukan kontak dengan keluarga adik bungsu mereka itu. Pemerintah daerah dan pihak keamanan setempat juga beberapa kali dihubungi. Gatot sang kakak sulung yang mempunyai hubungan dekat dengan elit militer di Jakarta, juga sudah melakukan kontak untuk mengetahi keadaan keluarga adik bungsu mereka.
Beberapa hari berlalu. Hanya kabar perkebunan itu ikutluluh lantak di rusak bentrok masa. Kabar yang datang ke Jakarta kemudian, ratusan jiwa ikut melayang. Ketika ada titik gterang Herman langsung meluncur ke Lebak. Ia tidak tahan membayangkan kesendirian ayahnya di tengah ke tidakpastian kabar anak bungsunya. Dalam keremangan senja mobil Herman memasuki pekarangan rumah ayahnya. Ayah segera keluar mendengan suara mobil memasuki halaman. Wajah ayah tampak tenang. Tahun-tahun yang lalu tampaknya telah menimpa ayah untuk melihat musibah dan keberuntungan sebagai kewajaran dalam hidup. Semestinya iya sudah tahu kabar apa yang dibawa Herman.
“Dik Irma sudah di temukan ,Yah.”
“Alhamdulillah, bagaimana suaminya?”
Herman menunduk. Ayahnya menghampiri. Memeluknya.
“Ayah sudah tahu, Nak Anto masih belum di temukan.
“Ya, Irma ditemukan berada di antara para pengungsi. Masih Soch. Mas Gatot sudah berangkat kesana.”
“Mudah-mudahan suaminyapun selamat, kasihan Irma.
Herman melirik ayahnya, Ayahnya tampak tegar, seolah hal menyedihkan itu tidak terjadi. Malam itu dilalui Herman dirumah orang tuanya. Tak banyak percakapan terjalin antara ayah dan anak. Keduannya lebih banyak terdiam dan berdoa dalam hati.
Dari kebun dan pekarangan, bunyi serangga malam mulai terdengar. Langit tampak gelap, karena cahaya bintang terhalang tebalnya awan. Dari balik jendela kamarnya, Herman mengarahkan pandangannya ke arah nisan sang ibu. Pandangannya terhalang oleh gelapnya malam. Matanya mulai terasa basah. Ia membatin. Barangkali air mata di nisan ibu akan selalu ada. Karena kesedihan dan kemalangan susah dihapus dari hidup seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar